SAUNG UDJO

SAUNG ANGKLUNG

MANG UDJO NGALAGENA

Ucapan bernada kegembiraan bercampur bangga selalu terlontar dari mereka yang baru saja memainkan musik angklung di Saung Angklung Udjo. “Ternyata memainkan angklung itu mudah buangettttt…,” kata salah seorang peserta dari Jakarta bernada menyombongkan diri. Padahal sebelumnya ia ragu apakah akan mampu. Namun setelah dicoba, dalam tempo beberapa menit setelah mendengarkan petunjuk dari instruktur yang bertindak sebagai dirijen, setiap orang sudah bisa memainkan angklung. Tidak percaya? Cobalah jika berkunjung ke satu-satunya sanggar kesenian musik angklung di Bandung yang tetap berkibar walau pernah didera krisis ekonomi.

02

            Terletak di pojok timur kota Bandung, Saung Angklung Udjo tak pernah sepi pengunjung. “Tiap hari selalu ada saja ada rombongan wisatawan yang datang ke sini,” seorang penjaga kios cendera mata mengungkapkan. Biasanya mereka berasal dari dalam negeri, namun tidak jarang dari luar negeri. “Paling banyak dari Belanda,” kata Megawati, sales promotion Saung Angklung Udjo. Mereka berkunjung setelah mengunjungi beberapa obyek wisata di kota Bandung dan sekitarnya. Sambil melepas lelah, mereka dihibur dengan musik angklung dan beberapa atraksi kesenian Sunda lainnya.

            Para penonton bukan hanya menyaksikan pagelaran musik angklung dan arumba (alunan musik bambu). Mereka diajak terlibat langsung menjadi pemain dan sekaligus pelaku permainan “Kaulinan Urang Lembur”, yakni berbagai jenis kesenian anak-anak di pedesaan Sunda. Ternyata usia bukan faktor penghalang untuk bergembira. Dalam suasana riang penuh gelak tawa, semua orang suka dan semua orang senang.    

            Apalagi pagelaran keseniannya  tidak hanya dilakukan oleh para pemain yang hampir seluruhnya terdiri dari anak-anak. Tingkah mereka lucu-lucu dan lugu. Dalam suasana yang cair, pengunjung diajak ikut menari berlenggang-lenggok di tengah arena pertunjukan. Usai dihibur lagu-lagu, mereka diajak bermain angklung bersama.

01

            Masing-masing peserta diberi sebuah angklung dan dibimbing bagaimana cara memegang dan memainkannya. Tiap angklung tersebut menghasilkan satu tangga nada. Mula-mula para peserta dibimbing membawakan lagu The Song of Do Re Mi dari film The Sound of Music sampai akhirnya mahir mengikuti kode aba-aba yang disampaikan instruktur.

            Barulah kemudian mereka diajak membawakan lagu-lagu lainnya. Dalam waktu singkat, para peserta sudah bisa memainkan angklung. Sampai-sampai salah seorang peserta yang sedang mengikuti pertukaran pelajaran berseru kegirangan: “Oh, wonderfull,very wonderfull………!”  Wajahnya kelihatan bangga dan girang karena dalam waktu singkat sudah bisa memainkan angklung.

            Entah cerita apa yang kelak akan dibawa pulang ke negerinya ….…….

                                                ****

            Angklung terbuat dari buluh-buluh bambu yang dijadikan tabung suara. Biasanya terdiri dari dua tabung dan dimainkan dengan cara digoyangkan oleh tangan untuk menghasilkan suara yang diinginkan. Di Jabar, berdasarkan angket Laboratorium Kesenian tahun 1973/1976 terdapat tidak kurang dari 15 jenis angklung. Ada yang dinamakan angklung angguk, badeng, badud, beug lojor, buncis, bungko, dodod, dogdog lojor, dan lainnya.

            Selain sebagai alat kesenian, di beberapa daerah, angklung memiliki kaitan dengan kegiatan bercocok tanam padi dan upacara ritual. Di Baduy, angklung digunakan pada upacara menanam padi di ladang. Di Cigugur (Kabupaten Kuningan), angklung menjadi unsur penting dalam upacara adat seren taun.

            Tetapi apakah angklung merupakan kesenian tradisional Sunda? Konon di Thailand terdapat alat kesenian sejenis yang disebut angkalung. Bahkan katanya, di Negeri Gajah Putih itu hingga kini masih tersimpan lagu-lagu Sunda yang dibawa dari Bogor pada tahun 1908 (Ngalagena, 1993). Angklung juga terdapat di Bali dan digunakan untuk upacara ritual. Katanya, di daerah ini angklung berasal dari kata “angke” yang artinya nada, dan “lung” yang artinya patah.  

            Disebut demikian karena tiap angklung hanya menghasilkan satu tangga nada. Karena itu pula, angklung tidak mungkin dimainkan seorang diri. Pagelaran kesenian angklung harus dilakukan secara berkelompok. Selama ini, kelompok kesenian Saung Angklung Udjo merupakan salah satu kesenian tradisional Sunda yang sering menjadi duta kebudayaan Indonesia ke berbagai negara. Bahkan hampir pada setiap kegiatan internasional yang diselenggarakan di Indonesia, para anggota delegasi yang berasal dari berbagai negara, merasa senang dan tertarik setelah dihibur musik angklung dan diajak memainkannya. Tetapi hal itu bukan satu-satunya keberhasilan diplomasi lewat musik angklung. Musik bambu tersebut bisa memikat dan menimbulkan kesan mendalam sebagai pengalaman yang tidak mudah terlupakan.

            Sekali waktu, pada peringatan Konferensi Asia-Afrika ke-25 dan ke-30 di Bandung, para peserta diberi kesempatan memainkan angklung yang dipimpin oleh Mang Udjo. Menurut cerita Prof. Mochtar Kusumaatmadja SH LLM yang saat menjadi luar negeri, sampai setahun kemudian, delegasi-delegasi dari Afrika masih tetap membicarakan apa yang mereka alami di Bandung.        

            Sukses lainnya dari misi kesenian Saung Angklung Udjo dialami ketika tahun 1985 dikirim ke Kepulauan Solomon. Negara  di Pasifik Selatan tersebut, pada saat itu masih mencurigai Indonesia karena pemberitaan mengenai Timor Timur dan Irian Jaya (Papua). Misi kesenian Saung Angklung Udjo berhasil membangun citra Indonesia. Bahkan saking tertariknya, sebelum misi kesenian tersebut kembali ke Indonesia, di sana sudah terbentuk orkes angklung yang bisa dimainkan dengan baik. Karena itu jangan kaget jika sekali waktu berkunjung ke negara itu, kita akan disuguhi musik angklung. Itulah salah satu rintisan Udjo. 

            Padahal jika menoleh ke belakang, alat kesenian ini pernah mencapai derajat paling rendah ketika hanya digunakan para pengemis mengamen dengan cara memainkannya dari rumah ke rumah. Namun di tangan Daeng Soetigna, nasib kesenian ini menjadi lain. Sejak tahun 1938, Daeng Soetigna melakukan pembaruan musik tradisional tersebut sehingga angklung bukan lagi instrumen musik masyarakat pedesaan atau kampungan.

Berkat kreativitas dan ketekunannya, musik angklung dimodernisir dari semula laras pentatonis menjadi laras diatonis. Perubahan ini berhasil mengangkat kesenian tradisional tersebut ke pentas dunia. Istana Merdeka selalu menyuguhkan musik angklung  di hadapan para tamu negara. Bahkan jauh sebelumnya, saat diselenggarakan Perjanjian Linggajati tahun 1946, kepada tamu-tamunya, Bung Karno  menyuguhkan orkes angklung modern yang dimainkan oleh serombongan muda-mudi dari Kuningan (Jawa Barat) yang dipimpin oleh Daeng Soetigna.

Siapakah sebenarnya Daeng Soetigna?

                                                ****

Daeng dilahirkan di Pameungpeuk, Garut selatan pada tanggal 13 Mei 1908 dan meninggal pada tanggal 4 April 1984. Tetapi angklung hasil ciptaannya tak pernah hilang. Bahkan sebaliknya malah berkembang secara mengagumkan. Pendidik yang dijuluki Bapak Angklung Modern ini mempunyai salah seorang murid. yang namanya Udjo Ngalagena.

            Nama pemberian orang tuanya sebenarnya hanya Udjo. Tetapi setelah dewasa, ia menambahnya dengan “Ngalagena” yang artinya enak, harapan, dan mandiri. Di kalangan masyarakat Sunda, ia dikenal dengan panggilan akrabnya Mang Udjo. Mang merupakan singkatan mamang  atau emang yang artinya paman. Tetapi panggilan itu bisa pula terjadi pada dua orang sahabat karib. Presiden Direktur Kelompok Kompas-Gramedia/KKG, Jakob Oetama biasa memanggil Pemimpin Umum Harian Pikiran Rakyat Bandung, Atang Ruswita (alm) dengan panggilan Mang  Atang.  

Mang Udjo, anak keenam dari delapan bersaudara sudah sejak usia enam tahun akrab dengan angklung. Ia biasa bermain angklung bersama teman-temannya yang sebaya dibawah bimbingan gurunya, Abah Almawi. Tetapi kegilaannya kepada alat musik yang satu ini makin menjadi-jadi setelah tahun 1948 berkenalan dengan Daeng Soetigna, orang yang diseganinya dan sekaligus dikagumi. Sehingga sejak itu Udjo belajar memainkan angklung dengan menggunakan not. 

Atas dorongan Daeng Sutigna pula, pada tahun 1961 Udjo bersama istrinya, Ny Uum Sumiati merintis menjadi perajin angklung yang bertujuan memenuhi kebutuhan alat kesenian di sekolah-sekolah. Modal pertamanya diperoleh dari hasil menggadaikan kalung dan gelang milik istrinya.   

Jerih payahnya berhasil mengangkat nama dan sekaligus derajat nasibnya. Tahun 1966 ia mendirikan sanggar, sehingga dari sebuah kegiatan kesenian yang bersahaja, Saung Angklung Udjo berhasil mengembangkan angklung dari semula sebagai kesenian tradisional menjadi kegiatan yang memiliki nilai ekonomi. Udjo Ngalagena menyelenggarakan pagelaran secara rutin. Sanggarnya yang dibangun di atas lahan yang dipenuhi pohon bambu seluas 1,5 hektar di daerah Padasuka (sekitar 2,5 kilometer arah timur dari Lapang Gasibu), dilengkapi dengan tribun terbuka, bengkel pembuatan angklung dan alat kesenian lainnya yang terbuat dari bambu seperti calung dan arumba, serta fasilitas lainnya. Tidak mustahil, angklung yang diproduksi Saung Angklung Udjo terdapat di antaranya yang dikirim ke Malaysia            

                                    ****

            Udjo Ngalagena meninggal  pada Kamis dinihari 3 Mei 2001. Karena tidak diketahui persis tanggal, bulan, dan tahun kelahirannya, usianya diperkirakan 72 tahun. Ia mewariskan aktivitas berkesenian kepada anak-anaknya. Dengan sentuhan generasi baru, Saung Angklung Udjo menjadi salah satu contoh menarik para peserta APEC conference on Community Based Tourisme yang diikuti sepuluh negara Asia-Pasific. Mereka kagum,  bagaimana mungkin sebuah kesenian tradisional yang melibatkan masyarakat sekitar bisa mendunia, sehingga muncul istilah Udjo way.    

Saung Angklung Udjo menyelenggarakan pagelaran “Pertunjukan Bambu Petang” secara rutin dari pukul 15.30 – 17.30. Pengunjung dari luar negeri dikenakan biaya Rp 80.000 dan pengunjung dari dalam negeri Rp 50.000/orang. Anak-anak usia 5 – 12 tahun dikenakan biaya Rp 35.000/orang dan di bawah 5 tahun bebas. Usai pagelaran, pengunjung akan memperoleh cendera mata berupa angklung mini.

Para pelaku kesenian tersebut sebagian besar terdiri dari anak-anak yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Kegiatan itu telah memotivasi belajar anak-anak tersebut. Saung Angklung Udjo memberikan bea siswa bagi anak-anak yang tidak mampu, yang sebagian besar orang tuanya tinggal di sekitar komplek sanggar. Bahkan karena pertemuan selama pagelaran, terdapat tamu-tamu asing yang terpikat hatinya, sehingga mereka rela menjadi orang tua asuh.***  

 ——————————————————

Alamat Saung Angklung Udjo: 

Jalan Padasuka 118

Bandung – 40192

Tilp: 022 – 727.1714

Fax: 022 – 720.1587

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s