MUSEUM POS

Museum Pos, Museum Tertua

                 Museum Pos bisa dikatakan sebagai museum tertua di kota Bandung. Museum ini sudah dibuka sejak tahun 1931, menempati bagian sayap kanan bawah Gedung Kantor Pusat PT  Pos Indonesia yang saat itu bernama Hoofdbureu Post, Telegraf en Telefoon (PTT). Namun akibat pergolakan revolusi selama Perang Kemerdekaan, museum ini sempat tidak terurus.

                Gagasan untuk membangun kembali museum tersebut diperkuat setelah tanggal 18 Desember 1980, Direksi Perum Pos dan Giro membentuk panitia persiapan. Setelah tiga tahun mengumpulkan kembali koleksi yang sempat tercerai-berai, museum tersebut diresmikan Menteri Pos dan telekomunikasi Achmad Taher pada tanggal 27 September 1983, bertepatan dengan Hari Bhakti Postel ke-30.  Lewat museum tersebut, pengunjung bisa mengetahui perkembangan pos di Nusantara sejak zaman VOC dan Bataafsche Republiek pada tahun 1795-1808, zaman pemerintahan Perancis (1808-1811), pemerintahan Raffles (1811-1814), pemerintah Hindia Belanda (1814-1942), zaman pendudukan Jepang (1942-1945), sampai era Kemerdekaan Republik Indonesia sejak tahun 1945. Selama itu pula, kegiatan usahanya mengalami pasang surut.

Museum Pos menempati ruang bawah Kantor Pusat PT Pos Indonesia yang  terletak di sayap kanan Gedung Sate. Bangunan gedung tersebut dibangun bersamaan dengan pembangunan Gedung Sate pada tahun 1920-an, merupakan hasil rancangan arsitek Ir. J. Gerber dari Jawatan Gedung-gedung Negara (Landsgebouwendienst).

                                                                                ****

                Jika memasuki museum tersebut, pengunjung pertama kali akan  memasuki dua ruang di lantai satu. Ruang pertama merupakan ruang galeri yang bertujuan memperkenalkan perjalanan sejarah pos di Indonesia. Sebuah ruang lainnya berfungsi sebagai ruang edukasi masyarakat dan pusat pengembangan sosio-kultur di bidang layanan pos. 

                 Di ruang galeri terdapat patung dada Mas Soeharto, Kepala Jawatan Pos, Telegrap dan Telepon Republik Indonesia yang pertama (1945-1949). Perjuangannya untuk mempertahankan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia harus ditebus dengan jiwanya. Ia dituduh menyalah gunakan pemancar PTT untuk digunakan oleh para pejuang yang bergerilya melawan Belanda. Rumahnya digerebek pada tanggal 17 menjelang 18 Januari 1949. Dalam keadaan sakit, ia dibawa dan disiksa oleh tentara Belanda. Sejak itu,  Mas Soeharto tidak kunjung ditemukan kembali.

Benda-benda koleksi museum yang dipamerkan di lantai dasar, terbagi dalam tiga kelompok koleksi. Masing-masing kelompok koleksi sejarah, koleksi filateli, dan kelompok koleksi peralatan. Ruang koleksi peralatan memamerkan peralatan-peralatan yang pernah digunakan dalam kegiatan pos. Antara lain kereta gerobak pos paling tua  yang digunakan tempat pengiriman surat di Kantor Pos Maluku pada tahun 1870. Koleksi lainnya bis surat (brievenbus)  pada zaman Hindia Belanda yang terbuat dari besi cor seberat 400 kilogram.

                Bis surat tersebut pertama kali digunakan di Kantor Pos Batavia pada tahun 1829. Namun bis surat untuk umum, pertama kali disediakan Kantor Pos Semarang pada tahun 1850, menyusul kemudian Kantor Pos Surabaya pada tahun 1864.

                Koleksi paling banyak dijumpai dalam ruang filateli, meliputi koleksi tidak kurang dari 114.984 perangko yang berasal dari 178 negara. Sekitar 8.644 diantaranya merupakan perangko terbitan dalam negeri. Kata perangko berasal dari bahasa Latin “franco”  yang artinya tanda pembayaran untuk melunasi biaya pengiriman surat. Perangko pertama yang dijuluki “The Penny Black”  bergambar Ratu Victoria dari Inggris dipamerkan dalam bentuk lukisan. Perangko tersebut diterbitkan di Inggris pada tanggal 6 Mei 1840 atas gagasan  Sir Rowland Hill yang dilahirkan di Kidderminster, Inggris pada tanggal 3 Desember 1795.

                Perangko pertama di Nusantara dikeluarkan pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 1 April 1864 sebanyak dua juta lembar.  Pada bagian sisi kiri terdapat tulisan “Nederl” dan  sisi kanan tertulis “Indie”. Di bagian paling bawah tertulis “Postzegel”.  Harga nominal perangko tersebut 10 cent (sen). Satu gulden Belanda sama dengan sepuluh sen. Perangko bergambar Raja Willem III itu warnanya merah anggur hasil rancangan JW Kaiser dari Amsterdam, dipamerkan dalam bentuk aslinya.

                Bagian paling akhir dari ruang pamer koleksi museum diisi dengan “Surat-surat emas Raja-raja di Nusantara” atau Golden Letters.  Surat-surat tersebut bukan hanya mencerminkan tradisi menulis di lingkungan keraton, tetapi juga memperlihatkan seni menulis yang sangat mempertimbangkan nilai-nilai estetika dan etika dalam surat-menyurat. ***

————————————————————-

Alamat            : Jalan Cilaki 73 (Samping Gedung Sate)

                           Bandung – Tilp: 022 – 420.6195

Jam buka       : Setiap hari kerja dari pukul 09.00 – 16.00

Karcis masuk : Gratis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s