Jam Matahari

MENGENAL IPTEK

DI PUSPA IPTEK

Jauh sebelum manusia mengenal jam, pernahkah terbayangkan bagaimana mereka memperkirakan waktunya pada siang hari? Manusia “tempo doeloe” ternyata punya cara tersendiri untuk mengatasi hal itu. Dengan menggunakan seperangkat alat yang dinamakan gnomon, mereka bisa mengetahui waktu semu lokal (local apparent time) lewat bayang-bayang matahari yang dihasilkan.

03_Puspaiptek_01

Gnomon adalah batang atau lempengan yang bayang-bayangnya digunakan penunjuk waktu dalam jam matahari (sundial).  Sedangkan waktu semu lokal menggambarkan gerak semu matahari di bola langit yang seakan-akan mengitari bumi, yakni terbit di timur dan terbenam di barat. Gerak semu matahari tersebut merupakan cerminan gerak rotasi bumi pada porosnya. Gnomon tersebut dipasang sedemikian rupa, sehingga pada saat terkena sinar matahari, bayang-bayangnya akan jatuh di atas bidang bertanda (bidang dial). Dengan melihat pada bagian mana bayang-bayang tersebut berada, maka kita akan mengetahui waktu semu lokal.

Pengetahuan manusia untuk mengetahui waktu semu lokal melalui jam matahari, diduga sudah lama dikuasai. Pengetahuan ini sudah berkembang sejak kebudayaan kuno di Babylonia, Yunani, Mesir, dan Romawi. Jam matahari tertua yang pernah ditemukan kebanyakan berasal dari Yunani berupa sebuah bentukan sirkular dengan penanda di bagian tengah sebagaimana ditemukan Chaldean Berosis yang hidup sekitar 340 SM. Beberapa artefak jam matahari ditemukan di Tivoll, Italia pada tahun 1746, di Castel Nouvo tahun 1751, di Rigano tahun 1751, dan di Pomeii tahun 1762. Tahun 1728, seorang astronom benama Jantar Mantar menemukan jam matahari dengan gnomon setinggi 30 meter di Jaipur, India.

Dilihat dari jenisnya, terdapat  jam matahari horizontal, vertikal,  ekuatorial, dan meridian. Namun dengan ditemukannya jam untuk mengetahui waktu, jam matahari praktis tidak digunakan lagi. Keberadaan jam matahari hanya sebagai landmark atau elemen penanda dalam tata taman kampus-kampus ternama seperti di Cambrige tahun 1542.

****

Di Indonesia, jam matahari terbesar terdapat di Perumahan Kota Baru Parahyangan, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, sekitar 20 kilmeter arah barat kota Bandung. Gnomon yang dijadikan jarum penunjuk  untuk memperoleh bayang-bayang matahari ditempatkan pada ujung puncak bangunan  gedung Pusat Peragaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspa Iptek). Panjangnya 28 meter, berada pada ketinggian 15 meter di atas permukaan tanah sekitar.

Jika terjkena sinar matahari, bayang-bayang jarum tersebut akan jatuh pada bidang bertanda (bidang dial). Namun untuk mengetahui waktu lokal secara tepat masih harus dikoreksi dengan bujur geografisnya. Karena daerah Padalarang berada di sebelah timur Greenwich, maka besarnya koreksi bujur yang harus dikurangkan pada waktu rata-rata lokal (local mean time/LAT)  adalah 9 menit 16 detik.

Jam matahari Puspa Iptek merupakan jenis jam matahari pertama di Indonesia yang berfungsi sebagai jam matahari jenis horizontal dan vertikal termodifikasi sekaligus menjadi landmark  gedung Puspa Iptek. Bangunannya yang menyerupai kapal laut,  diresmikan Menteri Riset dan Teknlogi Hatta Rajasa pada tanggal 11 Mei 2002.

Bagian dalam gedung tersebut diisi beragam alat peraga interaktif sehingga bisa memperkaya khasanah pengetahuan pengunjung yang sebagian besar terdiri dari siswa-siswa, sejak Taman Kanak-kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Lanjutan tingkat Pertama, sampai Sekolah Menengah Umum dan Sekolah Kejuruan.

04_Puspaiptek_01

Beberapa alat peraga tersebut antara lain sepeda gantung, multi katrol, mesin abadi, bola dunia melayang, hula hoop, bola plasma, film kartun, bola berpacu, bola plasma, radiometer, mirage, pompa Archimedes, antri gratifikasi, baterai tangan, panci air mancur, bongosong, wajah menengok, parabola bersuara dan lainnya. Alat peraga tersebut mencerminkan adanya instrumen mekanik, elektronik, optik, audio, biologi dan sebagainya.

02_Puspaiptek_01

Pada alat peraga sepeda gantung misalnya, pengunjung bisa bersepeda di atas ketinggian tiga meter dari atas lantai tanpa khawatir terjatuh. Hal ini memungkinkan karena massa d bawah cukup besar maka pusat massa selalu berada di bawah tali, sehingga sistem sepeda selalu tegak dan akan tetap stabil. Walau cukup aman, tak urung bisa membuat hati pengendaranya  dag-dig dug…..

Sepeda gantung merupakan alat peraga bagi mereka yang mau adu nyali karena bisa memacu adrenalin pengendaranya. ***

Alamat          : Kota Baru Parahyangan, Padalarang

Kabupaten Bandung Barat

Tilp: 022 – 708.27070

Jam  buka     : Selasa – Minggu pukul 08.30 – 16.00

Libur            : Senin

(kecuali tanggal merah tetap buka)

Karcis masuk: Anak- Dewasa Rp 10.000/orang

Termasuk bioskop 4 dimensi Rp 17.000/orang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s