Museum Geologi

Museum Geologi, Museum Terbesar di Asia Tenggara

 

Latar belakang berdirinya Museum Geologi tidak lepas dari kegiatan para peneliti di bidang pertambangan pada zaman penjajahan Belanda. Untuk menampung hasil kegiatannya, mula-mula didirikan Dienst van het Mijnwezen atau Jawatan Pertambangan pada tahun 1852. Karena kegiatannya makin meningkat, pada tahun 1922 statusnya ditingkatkan menjadi Dienst van den Mijnbouw.

Museum geologi_02

Sehubungan dengan rencana pemindahan pusat pemerintahan sipil dari Batavia, maka sejak tahun 1920-an, Dienst van den Mijnbouw dipindahkan ke Bandung bersama sejumlah instansi pemerintah pusat lainnya seperti Hoofdbeuro Post, Telefon en Telegraf (PTT), Staatspoor/SS, dan lainnya. Untuk itu, pada tahun 1928 dibangun gedung baru hasil rancangan Ir Menalda van Schouwenburg.

Gedung yang dinamakan Geologische Museum itu diresmikan pada tanggal 16 Mei 1929, bertepatan dengan berlangsungnya Kongres Ilmu Pengetahuan Pasific ke-IV (Fourth Pacific Sciene Congress) di Bandung.  Luas seluruh lantainya 1.006 M2, terdiri dari ruang paleontologi (364 M2), ruang tengah/peta (204 M2), ruang batuan, mineral dan bahan galian (308 M2), ruang geologi umum dan mineral luar negeri (126 M2), dan ruang gunung api (99 M2). Dengan koleksinya yang cukup banyak, museum ini dikenal sebagai museum geologi terbesar di Asia Tenggara.

Museum geologi_04

Museum Geologi mengalami renovasi pada tahun 1988 dengan bantuan hibah dari Pemerintah Jepang, sehingga pada tanggal 22 Agustus 2000 diresmikan Presiden Megawati Soekarnoputri. Peresmian itu sekaligus menandai peningkatan pelayanan terhadap pengunjung, mengingat kapasitas tampungnya lebih luas dengan bertambahnya lantai II dan dilengkapi dengan ruang auditorium, disamping perpustakaan.  Ruang pamer lantai dasar terdiri dari ruang Sejarah Kehidupan terletak di sayap timur, ruang Geologi Indonesia di  sayap barat.

Di antara kedua ruang itu, ruang tengah merupakan ruang orientasi dimana terdapat foto lama Presiden Soekarno saat berkunjung ke museum tersebut. Selain itu terdapat tugu kenangan yang terletak di tangga menuju lantai II. Tugu itu menceritakan nasib yang dialami akhli geologi Belanda, Reinder Fennema yang tenggelam dan meninggal di Danau Poso, Sulawesi pada tahun 1897.

****

Ruang Sejarah Kehidupan di lantai dasar sayap timur merupakan salah satu ruang yang paling banyak menarik perhatian pengunjung. Ruang ini berisi informasi riwayat terciptanya kehidupan. Sebagian besar koleksinya terdiri dari fosil yang berasal dari Kala Plistosen sekitar 1,7 juta tahun  sampai 10.000 tahun lalu.

Di Pulau Jawa, daerah temuan fosil yang terkenal adalah Ngandong (Ngawi, Jatim) dengan ditemukannya fosil gajah purba berkepala trigonal (Stegodon trigonocephalus MARTIN), kerbau purba (Bubalus palae0kerabau DUBOIS), badak (Rhinoceros sondaicus DESMAREST).  Badak masih terdapat di Ujung Kulon, Propinsi Banten, merupakan binatang yang dilindungi karena terancam punah. Sedangkan kerbau purba sudah lama punah, namun keturunannya masih banyak dijumpai di Indonesia. Tanduknya sangat besar dan panjangnya bisa mencapai 3 – 4 meter.

Fosil lainnya yang ditemukan di Glagah, Bumiayu, Banyumas, adalah kuda nil (Hipppotamus simplex KUNINGSWALD) dan  kura-kura purba raksasa (Geochelone atlas). Dalam bentuk fosil tengkorak manusia atau bagian tulang lainnya pertama kali ditemukan di Trinil, pada tahun 1891 oleh penduduk setempat. Trinil terletak 11 kilometer dari Ngawi, Jatim. Fosil itu kemudian dipelajari oleh Eugene Dubois dan diumumkan sebagai mata rantai yang hilang dalam silsilah (evolusi) manusia sehingga kemudian disebut Tithecanthropus erectus DUBOIS (manusia yang berdiri tegak). Empat tahun kemudian, Dubois yang mengumumkan tulisannya pada tahun 1895 telah menggegerkan dunia.  Sekarang fosil ini dinamakan Homo erectus yang diberi kode Phitecanthropus  I (P-I).

Museum geologi_03

Selain situs Trinil, fosil manusia purba ditemukan pula di Ngandong, Sangiran, Sambungmacan, dan lainnya. Sangiran di Kabupaten Sragen, terletak sekitar 20 kilometer utara kota Solo. Situs ini tergolong situs terkaya akan hasil temuan fosil vertebrata, khususnya manusia purba. Fosil vertebrata pertama kali ditemukan Schemuling pada tahun 1864. Tahun 1937, Koeningswald menemukan fosil manusia purba  yang kemudian diberi kode Pithecanthropus II. Sejak itu, temuan fosil manusia purba banyak ditemukan di daerah ini. Salah satunya yang  tersimpan di Museum Geologi, merupakan bentuk asli fosil  manusia purba Pithecantropus VIII atau disebut juga Sangiran 17 (S-17) . Fosil ini merupakan tengkorak paling lengkap dibanding temuan lainnya.

Namun di antara fosil-fosil yang dipamerkan, replika fosil Tyrannosaurus rex (T-rex)  merupakan primanoda. Replika fosil ini merupakan bantuan Jepang yang dibuat di Kanada dan kemudian dirangkai di Museum Geologi sekitar tahun 2000.  Pada zamannya, T-rex merupakan raja kadal pembunuh paling ganas sehingga dijuluki Tyrant Lizard  atau Raja Kadal yang kejam. Binatang ini termasuk dinosaurus pemakan daging terbesar.

Museum geologi_01

Kepalanya sangat besar dengan gigi panjang dan tajam.  Jika manusia yang dijadikan mangsanya, maka  dalam sekejap bisa dilahap. Dari ukuran tubuhnya bisa dibayangkan betapa menakutkannya mahluk purba itu. Tingginya sekitar 6,5 meter, lebih tinggi dibanding bangunan rumah satu lantai. Panjangnya 14 meter, hampir seukuran tiga buah truk yang diurutkan, sedangkan beratnya sekitar delapan ton.

T-rex hidup di Amerika Utara dan Asia, sezaman dengan dinosaurus jenis lainnya seperti dinosaurus  bertanduk (Triceratops), dinosaurus berperisai (Ankylosaurus), dinosaurus burung unta (Stuthiomius), dinosaurus bercakar (Velociraptor), dinosaurus berparuh bebek (Parasaurolo-phus), dan reptil terbang dengan rentang sayap tujuh meter.

Mau tahu telurnya? Dua butir telur dinosaurus yang diperagakan Museum Geologi berasal dari China, diduga merupakan telur dinosaurus Apatosaurus dan Segnosaurus. Kepalanya kecil namun tubuhnya besar dengan leher dan ekor panjang, sehingga panjangnya bisa mencapai 40 meter. Binatang ini berjalkan dengan empat kaki. Berbeda dengan T-rex yang pemakan daging, Apatosaurus termasuk dinosaurus pemakan tumbuh-tumbuhan.

****

Museum Geologi juga memeragakan “Pojok Bandung” yang menggambarkan terbentuknya Dataran Tinggi Bandung. Pada sekitar 125.000 – 15.000 tahun lalu, Cekungan Bandung pernah menjadi danau.  Di sekitarnya sudah terdapat kehidupan manusia prasejarah yang dibuktikan dengan temuan artefak-artefak. Danau tersebut terbentuk akibat Sungai Citarum dan sejumlah anak sungainya terbendung lahar letusan dasyat Gunung Sunda  sehingga melahirkan cerita rakyat yang melegenda, yaitu Sasakala Sangkuriang  dengan Danau Bandung Purba.

Jika kita mengitari ruang Geologi Indonesia, maka kita akan menyadari betapa kecilnya manusia hidup  di atas bumi yang rapuh ini. Pionir  geologi teknik dan lingkungan  Prof. Dott Sampoerno pernah mengandaikannya, jika bumi ini sebesar bola sepak, maka tanah tempat manusia menempel di atasnya ibarat kulit yang tebalnya hanya 0,7 milimeter. Manusia di atasnya sangat boleh jadi lebih kecil dari sebutir debu debu halus. Kulit bumi yang tipis itu mengapung dan terus bergerak, bergeser saling mendesak, mengerut dan terkoyak, atau sobek di sana-sini sehingga pecah berkeping-keping. Di bawah kulit bumi yang tipis itu terdapat massa cair kental yang pijar bersuhu tinggi.

Bumi tempat manusia berpijak memiliki 16 lempeng. Delapan di antaranya yang merupakan lempeng besar adalah Lempeng Indo-Australis, Lempeng Eurasia, Lempeng Amerika Utara, Lempeng Nazca, Lempeng Amerika Selatan, Lempeng Afrika, Lempeng Pasifik, dan Lempeng Antartika. Tanpa terasa oleh manusia, lempeng-lempeng itu terus bergerak perlahan. Manusia baru merasakan gerakannya jika terjadi gempa. Pusat gempa yang terjadi di laut  bisa mengakibatkan tsunami. Selain itu, bumi Indonesia terkenal dengan gunung apinya. Di seluruh Indonesia terdapat sekitar 129 gunung api aktif, atau 13 persen dari gunung api aktif di dunia.

Lantai II Museum Geologi yang memeragakan Geologi untuk Kehidupan Manusia menunjukkan bagaimana kekayaan yang terkandung di dalam bumi Indonesia.  Berbagai bahan tambang dan mineral hanyalah sebagian kecil dari kandungan lainnya seperti minyak dan gas bumi. Berbagai bahan tambang tersebut sudah lama dieksplorasi dan eksploitasi.

Alamat  : Jalan Diponegoro 57

Tilpun   : 022 – 721.3822

Fax       : 022 – 721.3934

http       : //museum.grdc.esdm.go.id

Jam buka: Senin – Kamis pukul 09.00 – 15.30

Sabtu – Minggu pukul 09.00 – 13.00

Jumat dan hari libur nasional tutup

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s