MUSEUM JABAR

MUSEUM PROPINSI JAWA BARAT

“SRI BADUGA’

Peribahasa mengatakan: “Tak kenal maka tak sayang”.  Karena itu, kita tidak akan mengenal Sunda jika kita tidak mengenal Sunda. Begitu juga sebaliknya iika kita tidak mengenal Sunda maka tidak mengenal Jawa Barat.

01_Sribaduga

Sunda dalam arti etnis, populasinya menempati jumlah terbesar penduduk Jawa Barat. Bahasa dan kebudayaan masyarakat Sunda memiliki ciri khas yang berbeda dengan etnis lainnya. Penduduknya ramah. “Orang Sunda dikenal someah ka tamu,” begitu sering dikemukakan karena sikapnya yang ramah pada para pendatang.

Salah satu cara untuk lebih mengenal sikap hidup dan budaya masyarakat Sunda dengan segala aspeknya itu bisa disaksikan di Museum Negeri Propinsi Jawa Barat “Sri Baduga”. Sebagai museum yang lebih menekankan nilai etnografi, koleksinya dihimpun dalam sepuluh klasifikasi yang meliputi koleksi geologika/geografika, biologika, etnografika, arkeologika, historika, numismatika dan heraldika, filologika, keramologika, seni rupa, dan koleksi teknologika.

****

Museum Negeri Propinsi Jawa Barat “Sri Baduga” dibangun di atas lahan seluas 8.452 M2 yang sebelumnya merupakan bekas kantor Kewedanan Tegallega, Bandung. Bangunannya menempati areal sekitar 60 persen dari luas lahan keseluruhan dengan mengacu pada arsitektur bangunan sunda..

Pembangunan museum tersebut  dimulai tahun 1974 dan diresmikan tanggal 5 Juni 1980 oleh Menteri P dan K Dr. Daud Jusuf. Tahun 1990, dibelakang nama museum ditambah “Sri Baduga” yang merupakan nama depan Raja Sunda Pajajaran Sri Baduga Maharaja Ratu Haji Pakuan Pajajaran Sri Ratu Dewata yang bertahta sejak tahun 1482-1521 Masehi.

Sampai tahun 2008, jumlah koleksinya mencapai sekitar 6.000 buah. Beberapa di antara koleksi tersebut merupakan sumbangan masyarakat. Keluarga H.A. Kunaefi, mantan Gubernur Jawa Barat (1975-1980) dan (1980-1985)  menyerahkan 22 benda pusaka. Keluarga Hendra Nicolas, mantan Komandan Brigade Laskar Merah Putih menyerahkan fosil binatang purba berusia 200 ribu tahun.

Maestro penari topeng Keni Arja dari Slangit, Cirebon, lewat Perwakilan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jabar menyerahkan satu set wayang purwa sebanyak 190 buah. Wayang yang diperkirakan berumur lebih dari seratus itu pemberian Ki Dalang Masnen dari Desa Kertanegara, Kecamatan Haurgeulis, Indramayu yang merupakan pemegang terakhir.

Dalam bentuk naskah kuno diterima dari H. Entjep Abdul Manan, penduduk Cisomang Barat, Purwakarta. Yang unik, keluarga Eddy M. Ament menyerahkan batu penutup makam Anna Maria peninggalan tahun 1756. Batu itu sekaligus menjadi saksi kehadiran  Verenigde Indische Compagnie (VOC) di Priangan.  Sebelum diserahkan ke museum, batu penutup makam itu  disimpan di rumah TH Ament yang saat itu menjadi Kepala Catatan Sipil Kotamadya Bandung.

Anna Maria dilahirkan di Bandung pada tanggal 4 September 1755 dan meninggal pada tanggal 28 Desember 1756. Jenazahnya dimakamkan di Kerkhof yang terletak di seberang Wyata Guna. Walaupun ia hanya anak Sersan De Groote, batu penutup makamnya terbuat dari batu andesit berukuran 60 x 125 Cm dan tebal 15 Cm. Beratnya kurang lebih 300 kilogram Tahun 1973, komplek pemakaman Kerkhof dibongkar dijadikan Stadion Pajajaran di Jalan Pajajaran, Bandung.

****

Koleksi-koleksi  Museum Negeri Propinsi Jawa Barat “Sri Baduga” ditampilkan di ruang pamer yang terbagi atas tiga lantai. Lantai satu memamerkan batuan (geologi), flora dan fauna, manusia purba (Homoerectus) dan manusia prasejarah (Homosapiens), Cekungan Bandung, relegi masyarakat dari masa prasejarah sampai masa Hindu-Budha. Sebagian besar di antaranya merupakan replika berbagai prasasti yang ditemukan di Jawa Barat.

05_Sribaduga

Cekungan Bandung yang selama ini lebih dikenal sebagai dataran tinggi ditampilkan dalam bentuk tiga dimensi sehingga bisa lebih mudah dipahami terbentuknya Danau Bandung Purba.  Bahwa Jawa Barat sebelumnya merupakan dasar samudra dalam dibuktikan dengan fosil potongan ruas tulang belakang (vertebrae) ikan paus yang ditemukan dalam batu gamping berumur Meosen Tengah (sekitar 15 juta tahun lalu) di daerah Surade, Sukabumi selatan. Tempat ini merupakan satu-satunya lokasi temuan ikan paus di Indonesia.

Fosil lainnya berupa tengkorak kepala kerbau (Bovidae) ditemukan di Desa Sukatani, Bekasi dalam keadaan hampir membatu. Dari bentuk tengkorak, tanduk dan giginya diperkirakan berasal dari kerbau purba (Bubalus Paleo Karabau) yang pernah hidup di Pulau Jawa pada masa Plestosin Akhir sekitar 1,8 juta tahun – 10.000 tahun lalu.

04_Sribaduga

Ruang pamer di bagian barat yang merupakan lantai dua menampilkan profil orang Sunda, budaya tradisi, budaya yang mendapat pengaruh asing, dan foto-foto peristiwa bersejarah yang merupakan perjuangan masyarakat Jawa Barat dalam mencapai kemerdekaan dan menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Materi budaya meliputi unsur rumah dan pola perkampungan, relegi, sistem pengetahuan, peralatan hidup, ekonomi, dan bahasa.

Salah satu pojoknya pernah memamerkan budaya masyarakat Baduy di Kanekes, Banten. Tetapi sejak tahun 2000, Banten memisahkan diri menjadi propinsi. Pojok itu kini dijadikan ruang pamer masyarakat adat Kampung Naga yang terletak di Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya.

Masyarakat Sunda sebelumnya dikenal egaliter. Namun dalam perjalanan sejarahnya, sebagian wilayahnya yang kini termasuk wilayah Priangan pernah berada di bawah kekuasaan Mataram. Sejak itu terjadi pelapisan, sehingga terdapat golongan masyarakat yang disebut menak, santana, dan cacah. Menak sama dengan bangsawan, sedangkan santana merupakan lapisan masyarakat tengah yang berada di antara menak dan cacah (rakyat kebanyakan).

03_Sribaduga

Lantai tiga menampilkan mata pencaharian masyarakat Jawa Barat, teknologi, kesenian, pojok sejarah perjuangan bangsa, pojok Wawasan Nusantara, dan pojok Bandung Tempo Dulu yang lebih banyak menampilkan foto-foto hasil reporoduksi.

02_Sribaduga

Museum Negeri Propinsi Jawa Barat “Sri Baduga” dilengkapi fasilitas auditorium, kantin, mushola, toilet, dan tempat parkir. ***

Alamat            : Jalan BKR 185 (Lingkar Selatan)

Bandung – Tilp: 022 – 521.0976

Jam buka        : Sabtu – Minggu pukul 08.00 – 14.00

Senin – Jumat pukul 08.00 – 15.00

Karcis masuk  : Anak-anak Rp 1.000/orang

Dewasa Rp 2.000/orang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s