MUSEUM MANDALA WANGSIT

Museum Mandala Wangsit Siliwangi

Dalam Kamus Basa Sunda RA Danadibrata (Kiblat, 2006), “wangsit” artinya sama dengan pesan atau amanat dari seseorang yang sudah tiada. Makna ini yang berusaha dipetik untuk Museum Mandala Wangsit Siliwangi dalam mewariskan nilai-nilai kejuangan Divisi Siliwangi kepada generasi berikutnya. Akan halnya nama Siliwangi itu sendiri diambil dari gelar Raja Sunda Prabu Siliwangi yang berhasil mengantarkan rakyatnya hidup tenteram dan sejahtera.   

                Museum Mandala Wangsit Siliwangi diresmikan Pangdam VI/Siliwangi  Kolonel Inf. Ibrahim Adjie pada tanggal 23 Mei 1966. Museum ini memiliki 11 ruang koleksi, dimana setiap ruang berisi koleksi peninggalan sejarah yang dirangkai secara kronologi yang berlangsung sejak masa Perang Kemerdekaan. Di antara koleksinya antara lain terdapat berbagai jenis persenjataan yang digunakan pada awal kemerdekaan. Antara lain bambu runcing, keris, golok, tombak, dan bedil locok. Dengan persenjataan yang sangat sederhana itulah para pejuang berusaha mempertahankan kemerdekaan dengan modal semangat dan keberanian yang tinggi melawan tentara Belanda.

01_museum mandala_05

                Sejalan dengan perkembangan, para pejuang yang tergabung dalam berbagai bagan-badan perjuangan itu menjadi cikal bakal berdirinya Divisi Siliwangi yang menjadi bagian dari Tentara Nasional Indonesia (TNI). Tetapi pada awal berdirinya divisi tersebut tidak bisa dibilang mulus. Pasukan Divisi Siliwangi yang berusaha kembali ke Jawa Barat melalui perjalanan panjang yang melelahkan dari Jawa Tengah harus menghadapi dua lawan. Pertama tentara Belanda yang berusaha menguasai kembali wilayah Jawa Barat, dan kedua “saudaranya” yang bergabung dalam DI/TII pimpinan SM Kartosuwiryo.    

Seluruh peristiwa yang mencerminkan perjuangan Divisi Siliwangi dan rakyat Jawa Barat, sehingga lahir sesanti: ”Rakyat Jawa Barat adalah Siliwangi dan Siliwangi adalah rakyat Jawa Barat” itu menjadi pesan (wangsit) pejuang masa lalu kepada generasi berikutnya.

                                                ****

Museum Mandala Wangsit Siliwangi didirikan  di atas lahan seluas 4.176 M2. Bangunan induknya terkesan klasik dengan gaya arsitektur “late romanticism”. Di halaman depan terdapat dua pohon kelapa yang ditanam dari kitri (bibit) pohon kelapa di Desa Cirikip, Kabupaten Ciamis. Pohon induknya pernah dijadikan tempat menyembunyikan Panji Siliwangi saat baru saja kembali ke Jawa Barat setelah melakukan hijrah dari Jawa Tengah. Dalam sebuah pertempuran pada awal tahun 1949, panji tersebut sempat direbut gerombolan DI/TII S.M Kartosuwirjo namun akhirnya berhasil direbut kembali.   

Bangunan tersebut sebelumnya dijadikan Gedung Stafkwartir Divisi Siliwangi, sekaligus menjadi saksi bisu peristiwa pembantaian yang dilakukan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) pimpinan Kapten Westerling pada tanggal 23 Januari 1950. Salah seorang korban kebiadabannya adalah Letkol Adolf Lembong yang saat itu akan menghadap Panglima Divisi Siliwangi ke-4, Kol. Inf Sadikin.  Letkol Adolf Lembong ditembak di depan gedung tersebut. Untuk mengenang peristiwa itu, jalan di depan museum tersebut yang sebelumnya bernama Oud Hospitalweg kini dinamakan Jalan Lembong

                Dua perwira menengah lainnya yang mengalami nasib yang sama adalah Mayor Sutikno dan Mayor Sachrin yang ditembak di depan Hotel Savoy Homann. Menurut catatan, korban kekejaman Westerling di kota Bandung tercatat 79 orang. Namun 18 orang di antaranya tidak dikenali. Maklum saat itu belum semua anggota TNI memiliki kartu identitas. Selain di Bandung, Westerling terlibat dalam Peristiwa Pembantaian 40.000 jiwa penduduk sipil di Sulawesi Selatan.

                Desertir komandan pasukan khusus dari daerah Batujajar, Bandung itu berusaha kabur setelah gagal menyerbu Jakarta. Dosa akibat kekejamannya mustahil berhasil diselamatkan jika tanpa campur tangan dan perlindungan dari penguasa saat itu. Ia hidup tenang di Negeri Belanda sampai meninggal dunia. 

                                                                ****

                Selain Peristiwa Westerling, gangguan  keamanan di Jawa Barat pada pada saat itu telah merusak sendi kehidupan masyarakatnya. Hubungan kereta api dari Bandung ke arah timur, terutama sejak statsiun Cicalengka (Bandung) sampai Ciawi (Tasikmalaya) sering mengalami sabotase, sehingga perjalannya dikawal kendaran panser rel yang ditempatkan di depan lokomotif. Kendaraan yang merupakan modifikasi buatan Bengkel Induk Bandung, Jawatan Peralatan Angkatan Darat itu dipamerkan di halaman samping museum.

01_museum mandala_03

                Namun dalam Operasi “Bharata Yudha”,   Kompi C Batalyon 328/ Kujang II Siliwangi pimpinan Letda Suhanda berhasil menangkap  S.M. Karosuwirjo di Gunung Geber, Kecamatan Paseh/Majalaya, Kabupaten Bandung pada tanggal 4 Juni 1962. Operasi tersebut dilakukan dengan pagar betis yang melibatkan rakyat Jawa Barat. Selama operasi tersebut, “Si Gajah” namun ada pula yang menjuluki “Si Dukun”banyak berjasa mengangkut para prajurit yang terluka. Mobil ambulance merk Chevrolet dengan nomor polisi D 1671 itu tersimpan di ruang belakang museum. Sebelumnya, kendaraan tersebut merupakan mobil ambulance milik Rumah Sakit Majalaya dari tahun 1957 – 1962.

01_museum mandala_07

                Masih banyak koleksi lainnya yang dipamerkan, baik berupa perlengkapan maupun persenjataan yang pernah digunakan. Pedang milik Mayor (purn) Soesilowati, anggota TKR wanita yang dijuluki “singa betina”, dalam pertemuran sengit di sekitar Andir pernah digunakan memenggal kepala salah seorang pasukan Gurkha hingga lehernya putus. Sebuah pedang lainnya merupakan hasil rampasan Sersan Taruna Himawan Sutanto ketika melancarkan penyergapan anggota gerombolan PKI/Muso di Madiun pada tahun 1948.  Dengan pangkat Mayjen TNI,  Himawan Soetanto M. Hum, pernah menjadi Pangdam VI/Siliwangi ke-13  sejak 14 April 1975 – 14 Oktober 1978.

                Pedang lainnya merupakan replika dari pedang samurai yang pernah digunakan pemuda Moh. Toha. Anggota Laskar Hizbullah yang menjadi pahlawan Bandung Selatan itu gugur bersama meledaknya gudang mesiu Belanda di Dayeuhkolot pada tanggal 11 Juli 1946.            

                Rangkaian perjalanan sejarah rakyat Jawa Barat dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia sebagaimana dituangkan dalam ruang pamer, setidaknya mengajak kita untuk merenung kembali. Bahwa kemerdekaan yang sekarang dinikmati,  diraih dan dipertahankan dengan darah dan jiwa para pahlawannya. Mereka tidak mengenal pamrih. ***        

 ——————————————————————————

Alamat           : Jalan Lembong 38

Tilp                : 022 – 420.3393

Jam buka      : Senin – Kamis pukul 08.00 – 13.00

                       Jumat pukul 08.00 – 10.00

                       Sabtu pukul 08.00 – 12.00

(Untuk yang akan berkunjung secara berombongan,

sebaiknya hubungi alamat di atas).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s