Goa Belanda

Goa Belanda, Saluran Air yang Dijadikan Benteng

Lokasi: Taman Hutan Raya Ir H Djuanda

Goa yang satu ini bukan merupakan goa alam sebagaimana banyak dijumpai di daerah karst. Goa ini dinamakan Goa Belanda karena dibangun pada zaman penjajahan Belanda, tetapi yang mengerjakan tetap saja orang-orang pribumi dengan membobok kaki bukit pada sekitar tahun 1912.  Menurut cerita, mereka hanya diupah 15 picis dan beras dua liter dalam sehari.

Pada saat awalnya, goa ini dibangun untuk saluran yang berfungsi mengalirkan air dari Sungai Cikapundung guna pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Bengkok. Karena itu, lubang utama yang sekaligus menjadi mulut goa dibangun lurus hingga tembus ke kaki bukit di bagian ujung lainnya sehingga menyerupai terowongan. .

Akan tetapi enam tahun kemudian, agaknya terjadi perubahan dalam perencanaan pembangunan goa tersebut. Air Sungai Cikapundung tidak lagi dialirkan melalui terowongan buatan, melainkan melalui pipa yang ditanam. Sejak itu, fungsi goa mulai berubah. Di kiri-kanan lubang terowongan utama dibangun sekitar 15 lorong, sehingga panjang seluruh lubang terowongan tersebut sekitar 547 meter.

Panjang terowongan utama 144 meter  dan lorong ventilasi 126 meter. Lorong-lorong di dalamnya masih dilengkapi dengan lorong distribusi logistik sepanjang 100 meter dengan lebar 3,2 meter, dan lorong sel tahanan 19 meter dengan lebar 2,5 meter. Tinggi rata-rata lorong tersebut sekitar tiga meter.

Belanda kemudian memanfaatkan goa tersebut menjadi benteng dan sekaligus tempat penyimpanan mesiu, serta pusat Stasiun Radio Telekomunikasi. Karena itu, di dekat mulut goa yang tingginya 3,2 meter dibangun semacam pos untuk mengawasi kendaraan atau pergerakan manusia di sekitarnya.

Lubang utama goa yang menyerupai terowongan tersebut sekaligus merupakan jalan tembus menghubungkan daerah Dago dengan daerah Maribaya yang letaknya sekitar tujuh kilometer dari kota Lembang. Dalam Perang Dunia Kedua, Lembang merupakan benteng Belanda untuk mempertahankan kota Bandung dari serangan bala tentara Jepang. Jika kota ini berhasil direbut, maka berakhirlah kekuasaan Belanada atas jajahannya. Karena letaknya strategis dan tersembunyi, maka dalam Perang Dunuia Kedua, goa tersebut dijadikan pusat komunikasi tentara Belanda.

Setelah Perang Kemerdekaan, goa ini tidak lagi memiliki fungsi penting, kecuali menjadi tempat rekreasi yang  menjadi bagian dari Taman Hutan Raya Ir Djuanda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s